Jumat, 06 Maret 2015

Renungan Kisah Nabi Yunus A.S.

RENUNGAN KISAH NABI YUNUS A.S.

Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orangorang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu. (QS Ash Shaafaat:139-148)

Ayat-ayat ini mengisahkan saat Nabi Yunus a.s. meninggalkan umatnya. Kemudian beliau naik ke sebuah kapal yang penuh dengan muatan. Karena sesuatu hal yang mengancam keselamatan kapal, maka diputuskan untuk mengurangi penumpang dengan cara melempar sebagian penumpang ke laut.

Untuk menentukan siapa yang akan dilempar ke laut, maka diadakan undian dan Nabi Yunus a.s. kalah dan harus dilempar ke laut. Kemalangan tidak sampai di sana, di laut beliau ditelan oleh seekor ikan yang besar. Beliau berdoa di dalam perut ikan sampai pertolongan Allah datang. Beliau dilemparkan ke suatu daerah yang tandus dan dalam keadaan sakit.

Setelah mengalami berbagai kemalangan dan kesulitan tersebut, akhirnya pertolongan Allah SWT datang. Mulai ditumbuhkannya pohon labu dan diterima oleh umat yang beriman. Suatu kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang yang bersabar atas segala ujian yang dihadapinya.

Oleh karena itu hendaknya kita semua selalu berpikir positif. Selalu yakin bahwa ada hikmah dari setiap kejadian atau kondisi yang kita alami saat ini. Suatu kesulitan bukan berati kita akan sulit selamanya. Ada kebaikan dan kemudahan setelahnya, insya Allah.

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS.Alam Nasyrah:5-6)

Dan belum tentu pula kesulitan yang kita hadapi merupakan gambaran dan kehinaan kita,
Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata:

"Tuhanku menghinakanku" Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. (QS. Al fajr:16-17)

Kesempitan rezeki bukan indikasi yang menunjukan kehinaan dan kesia-siaan.

Apapun kejadian yang menimpa kita, apabila hati kita penuh dengan iman, maka kita insya Allah akan selalu berhubungan dengan Allah SWT dan mengerti apa yang ada di sana. Harga diri seseorang dalam timbangan Allah SWT bukan ditentukan oleh nilai-nilai lahiriah. Kesulitan dan kegagalan bukanlah diri kita. “kesalahan kita” dan “kita” adalah berbeda. Kesalahan adalah kesalahan, diri kita adalah diri kita. Maksudnya jika kita melakukan kesalahan, bukan berarti diri kita orang yang selalu salah, kita hanya membuat kesalahan saja, yang masih bisa kita perbaiki. Jangan putus asa, jangan berhenti, teruslah maju.


Kutipan dari free e-book;
Merenungi Ayat-ayat Inspirator Vol 1 hlm 31-32
oleh: Rahmat ST
motivasi-islami.com


0 Silahkan dikomentarin :-):

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com