Kamis, 11 Februari 2016

Belajar Ikhlas Dari Para Salaf




Ikhlas, jika kita merujuk pada bahasa berarti memiliki arti tulus hati. Jika merujuk pada sebuah arti ikhlas berarti pemurnian amal shalih atau ibadah yang hanya mengharapkan ridho dari Allah semata. Suatu hal bisa disebut ikhlas jika dalam melakukan hal tersebut kita hanya ingin mendapatkan ridho dari Allah SWT semata tanpa ada maksud lainnya.

Imam Ibnu Qayim memberikan penjelasanya mengenai ikhlas yang memiliki arti meng- esa kan Allah disetiap apapun yang mereka lakukan. Imam Ibnu Qayim juga mengartikan ikhlas sebagai sikap yang bisa memurnikan sebuah amalan dari segala hal yang akan mengotorinya.

Sebenarnya kita sudah sangat sering mengucapkan ikhlas di setiap harinya. Hal ini terjadi ketika kita melakukan sholat dengan membaca surat Al – Fatihah pada ayat ke lima yang memiliki arti

“ hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan “

Meskipun hal ini sudah sangat sering kita lakukan, namun nyatanya ikhlas ini sangat sulit sekali untuk dipraktekan tak jarang kita melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan dari yang lainya bukan karena Allah.

Jika demikian maka kita patut untuk semakin berhati-hati, karena jika kita melakukan sebuah amalan namun hati kita tidak bisa bersikap ikhlas atau masih mengharapkan imbalan dari hal-hal yang duniawi maka hal tersebut bisa menjadi salah satu pertanda akan kebinasaan karena Allah SWT menganggap amalan tersebut sebagai debu yang terbang dan Allah tidak akan menerima amalan tersebut. Hal ini bisa kita lihat pada surat Al – Furhan ayat 23 yang memiliki arti

“ dan kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amalan itu sebagai debu yang berterbangan “

Melihat hal-hal diatas, maka sudah saatnya kita belajar ikhlas dari para salaf. Namun siapakah salaf itu? Bagaimana cara kita belajar ikhlas dari para Salaf? Salaf jika kita artikan dalam bahasa memiliki makna orang terdahulu yang bisa  kita jadikan sebagai pembelajaran di masa sekarang ini. Lalu siapakah orang-orang terdahulu yang bisa kita jadikan pembelajaran? Mereka adalah para sahabat Nabi, Tabi’in atau orang yang mengikuti sahabat, dan Tabi’ut tabi’in atau orang yang mengikuti Tabi’in. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya;

“sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudia generasi selanjutnya, dan generasi sesudahnya”

Sesudah kita mengetahui siapa itu Salaf? Mari kita belajar ikhlas dari para Salaf bersama-sama.

Yang pertama kita akan belajar ikhlas dari para Salaf yang diriwayatkan Abdulah bin Mubarak yang bercerita tentang Hamdan bin Ahmad ketika ditanya “kenapa perkataan ulama Salaf lebih berguna dari pada kita?” dan beliau lalu menjawabnya dengan “karena mereka(ulama Salaf) berbicara untuk kemuliaan Islam, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri-sendiri, mencari dunia dan keridhoan manusia”

Yang kedua kita akan belajar ikhlas dari para Salaf dan diriwayatkan oleh seseorang yang tinggal di dekat Muhamad bin Wasit “kenapa kulihat hati manusia itu tidak khusyu, tidak berlinang air matanya dan kulihat tidak bisa merinding” Setelah itu beliau Muhamad bin Wasit menjawabnya dengan “wahai fulan, karena kulihat orang-orang tersebut hanya mendapatkan cerita darimu, apabila kata-kata itu bersumber dari hati, niscaya ia akan sampai pada hati”
Dan yang ketiga kita akan belajar ikhlas dari para Salaf yang diriwayatkan oleh Abu Ja’far al – Hazdza yang pernah mendengar “aku pernah mendengar Ibnu Uyainah berkata, apabila amalan hati sesuai dengan amalan jahir maka itulah keadilan, apabila amalan hati lebih baik dari amalan zahir maka itulah keutamaan, dan apabila perbuatan zahir lebih baik dari pada hati maka itulah kepuasan”

Dari hal diatas kita bisa menyimpulkan bahwa ikhlas adalah perbuatan yang hanya ingin mendapatkan ridho Allah semata, bukan dari makluk lainya.

1 Silahkan dikomentarin :-):

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com