Selasa, 16 Februari 2016

Hukum Onani Bagi Laki-Laki




Dizaman yang serba ada dan pengetahuan luas ini, sex bukanlah hal yang tabu lagi untuk di ekspose. Bahkan jika kita hendak melihat fakta yang ada, anak – anak yang kita pikir umurnya belum cukup untuk mengetahui tentang sex, malah mereka sudah sangat paham akan apa itu sex. Dengan mudahnya akses internet dimanapun tempatnya, maka hendaknya kita mulai prihatin dengan situasi ini.

Kegiatan sex yang paling mudah dan dekat untuk dilakukan tanpa harus melibatkan orang lain adalah onani. Ya, onani sebenarnya bisa dilakukan oleh laki – laki maupun perempuan. Namun disini kita akan membahas, bagaimana hukum dari onani itu sendiri bagi laki – laki dan perempuan?

Onani adalah kegiatan sex yang merangsang alat kelaminnya sendiri untuk mendapatkan keni’matan setingkat dengan hubungan suami istri. Sedangkan onani ini hanya dilakukan oleh si pelaku saja. Dan bisa menggunakan tangan dan lainnya. Dan kegiatan ini dilarang oleh agama. Bahkan hukum dari onani ini haram.


Sebagaimana yang dikatakan oleh imam syafi’I dan maliki, bahwa hukumnya onani ini haram. Beliau berlandaskan hukum dari firman Allah surat Al-mukminun ayat 5-7 :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7)

Artinya: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas

Dengan berlandaskan dari firman Allah tersebut, maka kedua madzhab ini menyimpulkan bahwa hukum dari onani ini haram. Namun juga ada yang membolehkan seseorang melakukan onani. Sebagai mana pendapatnya Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan bahwa sperma atau mani adalah benda atau barang lebih yang ada pada tubuh yang mana boleh dikeluarkan sebagaimana halnya memotong dan menghilangkan daging lebih dari tubuh. Dan pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Hazm.

Akan tetapi, kondisi ini diperketat dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh ulama-ulama Hanafiah dan fuqaha hanbali, yaitu: Takut melakukan zina, Tidak mampu untuk kawin (nikah) dan tidaklah menjadi kebiasaan serta adat. Dengan kata lain (dengan dalil dari Imam Ahmad ini), onani boleh dilakukan apabila suatu ketika insting (birahi) itu memuncak dan dikhawatirkan bisa membuat yang bersangkutan melakukan hal yang haram.

Misalnya, seorang pemuda yang sedang belajar di luar negeri, karena lingkungan yang terlalu bebas baginya (dibandingkan dengan kondisi asalnya) akibatnya dia sering merasakan instingnya memuncak. Daripada dia melakukan perbuatan zina mendingan onani, maka dalam kasus ini dia diperbolehkan onani. Hal ini didasarkan pada qoidah fiqh “Idzaj tama’a ad-dhararu fa’alaykum biakhaffi ad-dhrarayn”, ketika terkumpul sebuah kemadlorotan maka bagimu memilih madlorot yang lebih ringan.

Nah teman-teman semua. Memang ada perbedaan dalam penentuan hukum dari onani itu sendiri. Namun satu hal yang perlu kita ketahui bahwa berhati-hati itu lebih baik.

0 Silahkan dikomentarin :-):

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com