Sabtu, 19 Maret 2016

Tasawuf



Tasawuf
Pertanyaan:
Apa arti tasawuf dan bagaimana perilaku yang benar dari seorang sufi?
jawab:
Tasawuf yang benar dan sejati ialah hidup di tengah keramaian pasar, di tengah masyarakat, dan ikut bergelut dengan kancah kehidupan.
Seorang ahli syair berkata,
"Bukanlah suatu zuhud, tasawufnya orang bertakwa yang lari dari kancah kehidupan dunia menyelamatkan agamanya."
Tasawuf sebenarnya orang yang dikenal dapat hidup di tengah orang-orang berharta, suasana masyarakat yang rakus, dan segala macam-macam fitnah.
Seorang yang tidak ikut berlaku kasar dan tidak ikut berbuat curang padahal dia hidup di tengah-tengah masyarakat seperti itu adalah yang lebih disukai Allah. Orang seperti itu mempunyai harga dan kehormatan diri. Orang yang biasa menjauhi
dan meninggalkan yang dilarang dan yang haram akan lebih mampu menegakkan kehormatan dan kemuliaan beribadah.Tasawuf yang sejati tidak akan meninggalkan kancah kehidupan duniawi. Al-Imam Abul Hasan as-Syazili, seorang sufi terkenal adalah tergolong pedagang yang mahir dan sukses.
Pengertian tentang tasawuf sangat luas, antara lain,
1.      Merupakan sifat dan perilaku orang-orang dahulu (salaf).Tasawuf mulai dikenal pada akhir abad kedua hijriah sebagai sifat dan perilaku orang yang hidup sederhana dan menjauhi kesenangan dan kemewahan hidup duniawi.
2.      Orang yang menggabungkan kepentingan dunia dan akhirat sekaligus dalam satu sikap, perilaku, dan pribadi. Melaksanakan urusan duniawi dengan selalu menjaga diri dalam jalur perintah dan larangan Allah, mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah saw. yang telah banyak dilupakan orang.
3.      Sifat seorang sufi ialah tidak ingin menonjol di masyarakat dan tidak ingin dikenal kesohorannya. Dia selalu mengabdi tidak bermaksud mencari kepentingan pribadi. Semangatnya tidak melemah meskipun dia tidak memperoleh imbalan materi yang wajar.
4.      Ahlussalaf (orang-orang dahulu) bekerja hanya untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya saja. Timbulnya bid'ah "hidup menyendiri" disebabkan meluasnya perbuatanperbuatan haram dan adanya perselisihan pendapat dalam
memilih dan mengerjakan yang halal

Dalam mencari rezeki, ada yang berpendapat bahwa rezeki yang halal ialah memungut sisa panen yang tercecer dan tidak diperlukan lagi oleh pemiliknya. Pendapat lain mengatakan bahwa yang murni halal dan tidak bercampur haram ialah hidup di padang-padang rumput yang bebas yang tidak ada pemiliknya. Pendapat lain mengatakan bahwa dalam mencari rezeki ibarat orang memakan bangkai atau daging babi. Dibolehkan karena hukumnya darurat. Karenanya mengambil sekadar memenuhi kebutuhan darurat saja. Ada pula yang memilih menyepi, menyendiri, menjauhkan diri dari masyarakat dengan hidup di dalam gua.
Di Maroko terdapat suatu aliran tarekat Sufiyah bernama Addar Qaqiyah cabang dari tarekat Asyaziliah. Salah satu ajarannya ialah mengharuskan kepada para muridnya melatih diri meninggalkan kesenangan dunia dengan cara mengemis segenggam makanan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kalau yang diperoleh lebih dari segenggam, dia harus menyerahkan kepada rekan-rekannya. Tindakan tersebut sebagai hukuman atas kerakusannya.Latihan seperti itu hanya sementara bertujuan untuk menghilangkan keangkuhan dan kerakusan hidup duniawi dan nanti setelah terjun ke tengah masyarakat dengan pribadi dan kebiasaan hidup sederhana.
Sekolah dari tarekat sufiyah ini banyak menghasilkan ulama besar dan terkenal yang mempunyai kecintaan islami yang murni. Apakah ada perbedaan perilaku ahlussalaf 'dengan sufi? Pada prinsipnya tidak ada. Perbedaan yang ada yaitu
bahwa sufi (tasawuf) menempuh jalan tertentu yaitu disebut tarekat-tarekat dengan organisasi yang dipimpin oleh Syekhsyekh.Syekh bisa mewariskan kepada anak-anaknya. Apakah bisa diterima oleh akal misalnya syekh mewariskan kepada anaknya yang belum baligh?
Ahlussalaf atau Salafiyah berpegang teguh pada ajaran masa Nabi Muhammad dengan bersifat wara yaitu menjauhi apa yang syubhat, khawatir masuk dalam perangkap yang haram. Mereka menggabungkan sifat wara "dengan peningkatan
ilmu pengetahuan dan melengkapi ibadah dengan mengamalkan yang sunnah-sunnah sepenuhnya.


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

0 Silahkan dikomentarin :-):

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com