Sabtu, 23 April 2016

Apa Bedanya Syariat dengan Hakikat?



Apa Bedanya Syariat dengan Hakikat?

Pertanyaan:
Apakah bedanya syariat dengan hakikat?

Jawab:
Selanjutnya penjelasan Ust. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi (dalam Anda Bertanya Islam Mejawab)  menerangkan bahwa;
Anda melaksanakan syariat, berarti Anda mengerjakan perintah Allah yang wajib tanpa alasan apa pun untuk meninggalkannya. Misalnya soal shalat atau tiba waktu shalat. Anda bangun kemudian wudhu dan kemudian shalat, berarti Anda telah mengamalkan syariat dengan tata cara shalat yang benar.
Masalahnya adalah apakah dalam mengerjakan itu Anda benar-benar hanya shalat karena Allah dan untuk Allah, atau hanya riya? (pura-pura supaya orang melihat Anda shalat). Itulah yang dimaksud hakikat yaitu melaksanakan syariat dengan hukum dan tujuan yang dikehendaki Allah dalam mengamalkan syariat secara mendasar.
Jadi, syariat ialah melaksanakan perintah wajib dengan segala bentuknya, sedangkan hakikat ialah melaksanakan apa yang disyariatkan itu secara inti dan pokoknya.
Hakikat ialah rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Allah dapat menilai apakah manusia dalam melaksanakan syariat itu sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau asalasalan saja. Hanya sekadar selesai mengerjakan tugas.
Ada yang berpendapat,'"Barangsiapa yang mengamalkan syariat tetapi tidak mengamalkan hakikat, sebenarnya dia munafik."
Contohnya kejadian pada zaman Rasulullah. Ketika itu orang-orang munafik ikut shalat bersama Rasulullah, bahkan menempati barisan pertama. Dari segi syariat mereka mengamalkan, tetapi dari hakikat lain lagi penilaiannya.
Bisa dimisalkan juga dari kejadian sehari-hari pada sebuah kantor. Sang direktur yang rajin bekerja memerintahkan kepada  bawahannya supaya dalam bekerja harus disiplin waktu, melarang makan dan minum dalam bekerja, dan memberi sanksi
bagi yang melanggar.
Peraturan-peraturan itu ditaati oleh pegawainya, tetapi



apakah si pegawai itu dalam bekerja sesuai dengan yang dituntut oleh atasannya? Tegasnya, syariat ialah bentuk ibadah, sedang hakikat adalah maksud yang dihadapkan oleh yang menetapkan syariat.
Orang yang hanya mengamalkan syariat saja tidak terdapat cahaya jernih pada wajahnya. Tetapi orang yang mengamalkan hakikat akan terlihat pada wajahnya, kejernihan, cahaya, dan sinar yang cerah (nur).


Sumber Pustaka:
Sya’rawi, Muhammad Mutawai.  2007. Anda Bertanya Islam Menjawab. Diterjemahkan Oleh: Abu Abdillah Almansyur. Jakarta. Gema Insani

0 Silahkan dikomentarin :-):

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com